PENYEBAB KONFLIK AGAMA DAN MASYARAKAT


PENYEBAB KONFLIK AGAMA DAN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Beragam konflik memang muncul dari beragam sumber, termasuk agama di dalamnya. Padahal tentunya, agama tidak serta merta diciptakan untuk berbuat semena-mena terhadap yang lainnya. Tentunya, semuanya kembali lagi ke manusia nya. Apabila tindakan manusia tadi memang baik, maka segala hal yang menyangkut kehidupannya pun akan ikut berimbas menjadi kegiatan yang baik. Seperti halnya air, yang tentunya akan tetap jernih bila tanpa dicampur dengan limbah yang beracun. Sama dengan manusia, bila akhlak nya dirusak oleh kegiatan-kegiatan yang buruk, pikirannya akan jatuh ke dalam lembah kebusukan.

RUMUSAN MASALAH

1.Apa yang membuatadanya konflik antar agama dan masyarakat
2.Penanggulangan konflik agama

BAB II PEMBAHASAN

Beragam konflik memang muncul dari beragam sumber, termasuk agama di dalamnya. Padahal tentunya, agama tidak serta merta diciptakan untuk berbuat semena-mena terhadap yang lainnya. Tentunya, semuanya kembali lagi ke manusia nya. Apabila tindakan manusia tadi memang baik, maka segala hal yang menyangkut kehidupannya pun akan ikut berimbas menjadi kegiatan yang baik. Seperti halnya air, yang tentunya akan tetap jernih bila tanpa dicampur dengan limbah yang beracun. Sama dengan manusia, bila akhlak nya dirusak oleh kegiatan-kegiatan yang buruk, pikirannya akan jatuh ke dalam lembah kebusukan.
Lalu, apakah manusia sendiri memang murni melakukan konflik hanya karena agama? Sepertinya tidak. Perbedaan di agama ini dijadikan momentum yang bagus bagi oknum-oknum yang ingin mencari jalan pintas untuk memecah masyarakat. Membunuh atas nama agama, melakukan pelecehan atas nama agama, melakukan penghakiman atas nama agama. Padahal, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan itu semua. Segala kehancuran yang mereka sebabkan sendiri itu bahkan tidak ada yang mengajarkan. Kita pasti tahu bukan, seluruh agama pasti selalu menyerukan perdamaian. Lalu apa yang sebenarnya menjadi penyebab konflik antar agama terus terjadi di masyarakat?

1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Akan Kehidupan yang Harmonis

Nah, di pikiran kita, kita bisa membayangkan bukan bahwa kehidupan harmonis itu sangat indah sekali untuk ditinggali. Untuk menciptakan keharmonisan dalam berkehidupan antar sesama, maka diperlukan juga yang namanya rasa memaklumi, tenggang rasa, dan menghormati yang harus dimiliki oleh setiap orang. Kadang kita lupa, bahwa kita yang sebenarnya telah merusak keharmonisan itu sendiri. Kita tuduh teman kita sendiri sembarangan, kita melakukan tindakan perusakan entah itu fisikal ataupun sosiologis. Semua memang seringkali kita lakukan tanpa sadar, namun imbasnya tetap saja berujung pada kehancuran harmonisasi tadi sehingga jurang perpecahan akan semakin lebar luasnya. Disitulah konflik merajalela, dan dilakukan oleh siapa saja di dunia. Kita memaksakan kehendak untuk kepentingan pribadi namun menyingkirkan kebutuhan golongan yang mendasar begitu saja.
Rasa kurang simpati inilah yang membuat kita akhirnya menjadi manusia yang individualis. Selama kita aman dengan apapun yang kita pegang (termasuk agama), orang terluka di depan mata pun nampaknya dibiarkan begitu saja. Sayangnya inilah yang seringkali dilakukan oleh masyarakat mayoritas, apalagi dengan masyarakat mayoritas agama tertentu. Jumlah suara yang begitu banyak akan menghancurkan suatu  individu begitu saja, terutama yang minoritas. Tentunya ini tidak dibenarkan, namun itu terjadi begitu saja.

2. Sengketa Lahan Untuk Tempat Ibadah

Tanah di Indonesia ini bisa digunakan untuk membangun segala unit bangunan, untuk segala kebutuhan manusia yang mendasar. Bisa saja digunakan untuk membangun bangunan pribadi seperti rumah, atau untuk bangunan publik seperti mall atau swalayan. Bangunan publik yang umumnya dibangun adalah tempat ibadah, rumah Tuhan. Walaupun progress untuk membangun suatu bangunan sudah jelas, namun ada saja pihak yang menyelewengkannya. Contohnya, pernah terjadi perebutan tanah entah oleh pihak mana, dan ujung-ujungnya ternyata tanah yang akan diperebutkan akan dibangun tempat ibadah. Hal ini tentunya tidak ada hubungan dengan agama sebenarnya.
Yang jelas bersalah disini adalah pihak manusianya, yang senang memperebutkan sesuatu pada tempatnya. Tapi, ada saja yang menyangkut pautkan hal ini dengan agama, dengan cara mengutip beberapa ayat yang bisa saja mengandung makna yang berbeda. Perlukah hal ini dilakukan? Tentunya tidak. Menyangkutkan hal yang tidak ada kaitannya sebenarnya adalah suatu tindakan yang tercela, 
dosa. Bukankah hal itu sama saja dengan memfitnah?

3. Penyalah Artian Ayat Dalam Kitab Suci

Seperti yang kita tahu, Kitab Suci agam kita dibuat oleh Tuhan. Tidak ada campur tangan manusia di dalamnya, bukan? Nah, sebagai manusia kita dibekali dengan pemikiran yang diberikan untuk melihat, mengamati, dan berpikir tentang segala hal dengan cara yang berbeda-beda. Satu hal memiliki banyak arti, satu kalimat bisa diartikan berbeda antar satu manusia dengan manusia yang lain. Tentang pemahaman kitab suci inilah, kadang ada dari kita yang salah mengartikannya. Banyak manusia yang “terlalu cepat” berpikir tanpa melakukan ulasan lebih lanjut mengenasi suatu ayat.
Anehnya lagi, dia merasa dialah yang merasa paling benar mengartikannya. Kemudian menjalankan segala sesuatu sesuai apa yang dia tangkap di pikirannya. Nah, apabila kita masih belum mengetahui betul akan sesuatu, lebih baik kita mengkajinya terlebih dahulu, apa yang benar-benar terkandung di dalamnya agar kita bisa lebih mengerti. Jangan hanya melihatnya dari pemahaman kita saja, bisa saja memang kita sudah tidak paham dari awalnya. Lalu, bila kita melakukan suatu tindakan tertentu berdasarkan apa yang pertama kali kita tangkap di otak, maka kita melakukan kegiatan tadi bukan berdasarkan arti yang benar-benar sesuai dengan suatu ayat. Tapi kita hanya melakukannya berdasarkan asumsi belaka. Jangan sampai kita melukai seseorang hanya kita salah mengartikan tuntunan hidup yang terangkum di Kitab Suci oleh kita sendiri.

4. Pemikiran Radikal

Pada suatu agam yang damai, ada suatu kelompok yang memaksakan kehendaknya dan berujung pada sikap merendahkan agama lain. Inilah kelompok yang radikal. Kelompok ini selalu menjalankan segala cara untuk semua pihak bisa “setuju” dengan apa yang ingin dia capai. Ya, dia memaksakan kehendak seenak hati saja tanpa memikirkan imbasnya pada orang lain. Anehnya, ada yang setuju dengan pemikiran primitif seperti ini dan ikut bergabung dengan kelompok itu. Tak ragu-ragu, mereka berani menjatuhkan siapapun yang ada di jalannya. Termasuk para petinggi negara bila perlu. Hal ini tentunya cukup disayangkan, terutama membayangkan imbasnya yang akan mempengaruhi hubungan antar sesama agama, ras, ataupun suku di suatu negara. Mereka yang dianggap “menyimpang” akan ketakutan, sementara badan yang berwenang berusaha menutup mata. Lengkap sudah, kehancuran sudah di depan mata bila hal tersebut akan berlanjut.

Penanggulangan Konflik Agama

            Agama sebuah keyakinan. Bukan barang mainan. Setiap orang bersedia melakukan apa saja, demi keyakinan agama. Inilah yang harus diperhatikan oleh semua golongan, agar tidak bertindak sewenang-wenang. Karena hanya akan menyulut perang antara agama. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menangani konflik antar agama :
- Dalam menangani konflik antaragama, jalan terbaik yang bisa dilakukan adalah saling mentautkan hati di antara umat beragama, mempererat persahabatan dengan saling mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama membawa misi kedamaian.
- Tidak memperkenankan pengelompokan domisili dari kelompok yang sama didaerah atau wilayah yang sama secara eksklusif. Jadi tempat tinggal/domisili atau perkampungan sebaiknya mixed, atau campuran dan tidak mengelompok berdasarkan suku (etnis), agama, atau status sosial ekonomi tertentu.
- Masyarakat pendatang dan masyarakat atau penduduk asli juga harus berbaur atau membaur atau dibaurkan.
- Segala macam bentuk ketidakadilan struktural agama harus dihilangkan atau dibuat seminim mungkin.
- Kesenjangan sosial dalam hal agama harus dibuat seminim mungkin, dan sedapat – dapatnya dihapuskan sama sekali.
- Perlu dikembangkan adanya identitas bersama (common identity) misalnya kebangsaan (nasionalisme-Indonesia) agar masyarakat menyadari pentingnya persatuan dalam berbangsa dan bernegara.

            Perlu dicari tokoh masyarakat yang dipercaya dan/ atau dihormati oleh pihak-pihak yang berkonflik, untuk berusaha menghentikan konflik (conflict intervention), melalui lobi-lobi, negosiasi, diplomasi. Hal ini merupakanusaha peace making.

            Dalam usaha untuk mengembangkan adanya perdamaian yang lestari, atau adanya rekonsiliasi, maka metode yang dipakai oleh pihak ketiga sebaiknya adalah mediasi dan bukan arbitrase. Dalam arbitrase, pihak ketiga (pendamai) yang dipercaya oleh pihak-pihak yang bertentangan/berkonflik itu, setelah mendengarkan masing-masing pihak mengemukakan masalahnya, maka si arbitrator “mengambil keputusan dan memberikan solusi atau penyelesaiannya, yang “harus” ditaati oleh semua pihak yang berkonflik.

            Penyelesaian konflik melalui jalan arbitrase mungkin dapat lebih cepat diusahakan, namun biasanya tidak lestari. Apalagi kalau ada pihak yang merasa dirugikan, dikalahkan atau merasa bahwa kepentingannya belum diindahkan.

            Sebaliknya, mediasi adalah suatu cara intervensi dalam konflik, di mana mediator (fasilitator) dalam konflik ini juga harus mendapat kepercayaan dari pihak yang berkonflik. Tugas mediator adalah memfasilitasi adanya dialog antara pihak yang berkonflik, sehingga semuanya dapat saling memahami posisi maupun kepentingan dan kebutuhan masing-masing, dan dapat memperhatikan kepentingan bersama.

            Jalan keluar atau penyelesaian konflik harus diusulkan oleh atau dari pihak-pihak yang berkonflik. Mediator sama sekali tidak boleh mengusulkan atau memberi jalan keluar/penyelesaian, namun dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu pihak-pihak yang berkonflik untuk dapat mengusulkan atau menemukan jalan penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak. Mediator tidak boleh memihak, harus “impartial”, tidak bias, dsb.

            Mediator harus juga memperhatikan kepentingan-kepentingan stakeholders, yaitu mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam konflik, tetapi juga mempunyai kepentingan-kepentingan dalam atau atas penyelesaian konflik itu. Kalau stakeholders belum diperhatikan kepentingannya atau kebutuhannya, maka konflik akan dapat terjadi lagi, dan akan meluas serta menjadi lebih kompleks dan dapat berlangsung dengan berkepanjangan.

            Mengembangkan kegiatan pendamaian itu tidak mudah. Ada beberapa tahapan atau perkembangan yang dapat kita amati yaitu:
    Peace making (conflict resolution) yaitu memfokuskan pada penyelesaian masalah – masalahnya (isunya: persoalan tanah, adat, harga diri, dsb.) dengan pertama-tama menghentikan kekerasan, bentrok fisik, dll. Waktu yang diperlukan biasanya cukup singkat, antara 1-4 minggu.
    Peace keeping (conflict management) yaitu menjaga keberlangsungan perdamaian yang telah dicapai dan memfokuskan penyelesaian selanjutnya pada pengembangan/atau pemulihan hubungan (relationship) yang baik antara warga masyarakat yang berkonflik. Untuk itu diperlukan waktu yang cukup panjang, sehingga dapat memakan waktu antara 1-5 tahun.
    Peace building (conflict transformation). Dalam usaha peace building ini yang menjadi fokus untuk diselesaikan atau diperhatikan adalah perubahan struktur dalam masyarakat yang menimbulkan ketidak-adilan, kecemburuan, kesenjangan, kemiskinan, dsb. Waktu yang diperlukan pun lebih panjang lagi, sekitar 5-15 tahun.

Konflik antarumat beragama itu di Indonesia akhir-akhir ini rupa-rupanya sengaja dibuat atau direkayasa oleh kelompok tertentu atau kekuatan tertentu untuk menjadikan masyarakat tidak stabil. Ketidakstabilan masyarakat ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan politis maupun ekonomis, oleh berbagai pihak. Hal ini sangat berbahaya, karena konflik horizontal dapat dimanipulasi menjadi konflik vertikal, sehingga menimbulkan bahaya separatisme dan disintegrasi nasional atau disintegrasi bangsa.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN
Untuk menghadapi masalah-masalah konflik dengan kekerasan yang melibatkan umat berbagai agama dalam suatu masyarakat, diperlukan sikap terbuka dari semua pihak, dan kemampuan untuk memahami dan mencermati serta menganalisa sumber-sumber konflik. Demikian juga diperlukan adanya saling pengertian dan pemahaman kepentingan masing-masing pihak, agar dapat mengembangkan dan melihat kepentingan bersama yang lebih baik sebagai prioritas, lebih daripada kepentingan masing-masing pihak yang mungkin bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA



Komentar

Postingan Populer