TUGAS-6 MANUSIA DAN PENDERITAAN


         MANUSIA DAN PENDERITAAN
                                                  
                                                   NAMA : KARUNIA
                                                   NPM : 3341867
                                                   KELAS : 1ID01

LATAR BELAKANG
Semua manusia diciptakan oleh karna Anugrah. Tetapi dibalik semua berkat yang manusia terima dari Tuhan yang Maha Esa masih banyak masalah dan penderitaan yang manuia alami. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, dan ada kehidupan yang tanpa masalah. Penderitaan itu relatif tergantung siapa yang menghadapi, ada orang yang benar-benar sanggup menghadapi masalah walaupun masalahnya sudah sangat besar, namun ada pula yang masalahnya masih sangat kecil namun ia selalu mengeluh dengan apa yang ia dapatkan.
Pada hakekatnya semua manusia memiliki masalah di dalam hidupnya. Masalah merupakan salah satu pendorong dan penyemangat hidup. Hidup tanpa masalah seperti jalan lurus yang tak punya arah dan tujuan.
PEMBAHASAN
Pengertian Penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namur peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuQUovzqJkaylLg-GcGz3F-bTp9-g-Eg6mVYYiym90coQZnxvP_Umkw-8yQS5U_rlDiLxLmkJWZul5FCBFU4SX4n6zUKEl3LkGkxAji9qtY7bQKDpbbV5Xa7QjRLmVFLgpZif1HdZ0wwb7/s1600/Pengertian+Penderitaan+dan+Sebab-sebab+Timbulnya+Penderitaan.jpg

Sebab-Sebab Timbulnya Penderitaan:

1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan manusia.

2. Penderitaan yang timbul karena siksaan / azab Tuhan.

Pengaruh / dampak yang dapat ditimbulkan dari penderitaan dapat berupa dampak positif ataupun dampak negative. Sikap ini sangatlah berpengaruh dari kepribadian orang yang mengalami penderitaan, jika orang ini mempunyai kepribadian yang sabar maka dampak yang ditimbulkan akan membuat orang ini semakin tabah, ulet, dll. Begitupula sebaliknya.
Penderitaan atau rasa sakit dalam arti luas,[1] dapat menjadi pengalaman ketidaknyamanan dan kebencian terkait dengan persepsi bahaya atau ancaman bahaya di suatu individu.[2] Penderitaan adalah elemen dasar yang membentuk valensi negatif dari afektif fenomena. Kebalikan dari penderitaan adalah kesenangan atau kebahagiaan.
Penderitaan ini sering dikategorikan sebagai fisik[3] atau mental.[4] Hal ini dapat datang dalam berbagai tingkat intensitas, dari yang ringan sampai yang tak tertahankan. Faktor-faktor dari durasi dan frekuensi terjadinya biasanya senyawa yang intensitas. Sikap terhadap penderitaan dapat bervariasi secara luas, pada penderita atau orang lain, menurut berapa banyak hal ini dianggap sebagai dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, berguna atau tidak berguna, pantas atau tidak layak.
Penderitaan terjadi dalam setiap kehidupan makhluk dalam banyak cara, sering kali secara dramatis. Akibatnya, banyak bidang kegiatan manusia yang berkaitan dengan beberapa aspek dari penderitaan. Aspek-aspek tersebut dapat meliputi sifat penderitaan, proses, asal-usul dan penyebab, arti dan makna, berkaitan dengan pribadi, sosial, dan budaya perilaku, obat, manajemen, dan menggunakan.

Terminologi

Kata penderitaan kadang-kadang digunakan dalam arti sempit dari rasa sakit fisik, tapi lebih sering hal ini mengacu pada rasa sakit mental, atau lebih sering namun hal ini mengacu pada rasa sakit dalam arti luas, yaitu untuk menyenangkan perasaanemosi atau sensasi. Kata sakit biasanya merujuk kepada rasa sakit fisik, sinonimnya dari kata penderitaan. Kata-kata rasa sakit dan penderitaan yang sering digunakan dalam arti yang sama namun dalam pengertian yang berbeda. Misalnya, mereka dapat digunakan sebagai sebuah sinonim. Atau kedua kata tersebut dapat digunakan secara 'bertentangan' satu sama lain, seperti dalam "rasa sakit fisik, penderitaan mental", atau "rasa sakit tidak bisa dihindari, sedangkan penderitaan adalah sebuah pilihan". Atau mereka dapat digunakan untuk menentukan satu sama lain, seperti dalam "rasa sakit adalah penderitaan fisik", atau "penderitaan fisik yang parah atau sakit mental".
Kualifikasi, seperti fisik, mental, emosional, dan psikologis, yang sering digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis rasa sakit atau penderitaan. Secara khusus, sakit mental (atau penderitaan) dapat digunakan dalam hubungan rasa sakit fisik (atau penderitaan) untuk membedakan antara dua macam kategori dari rasa sakit atau penderitaan. Pertama, perbedaan tersebut adalah bahwa ia menggunakan rasa sakit fisik dalam arti yang biasanya mencakup tidak hanya yang 'khas pengalaman sensorik dari rasa sakit fisik' tetapi juga yang tidak menyenangkan lainnya pengalaman tubuh termasuk udara kelaparankelaparan, gangguan pada sistem vestibular, mual, kurang tidur, dan gatal-gatal. Perbedaan kedua  adalah bahwa syarat-syarat fisik atau mental tidak harus diambil terlalu harfiah: fisik rasa sakit atau penderitaan, sebagai soal fakta, yang terjadi melalui pikiran sadar dan melibatkan aspek emosional, sementara mental rasa sakit atau penderitaan yang terjadi melalui fisik otak dan, menjadi emosi, melibatkan aspek penting fisiologis.
Kata ketidaknyamanan, yang beberapa orang menggunakan secara sinonim dari penderitaan atau rasa sakit dalam arti luas, dapat digunakan untuk merujuk kepada dasar dimensi afektif dari nyeri (penderitaan aspek), biasanya dalam kontras dengan sensorik dimensi, seperti misalnya dalam kalimat ini: "rasa Sakit ketidaknyamanan sering, meskipun tidak selalu, berhubungan erat dengan intensitas dan kualitas yang unik dari sensasi yang menyakitkan."[5] Beberapa kata yang memiliki definisi sejenis dengan penderitaan adalah kesedihan, kesengsaraan atau sengsara, sakit, ketidaknyamanan, ketidaksenangan, ketidaksetujuan.

Filsafat

Hedonisme, sebagai ahli teori etika, mengklaim bahwa baik dan buruk terdiri dari kenikmatan dan rasa sakit. Banyak hedonis lainnya yang sependapat dengan Epicurus dan sebaliknya dengan persepsi populer dari ajaran-nya, menganjurkan bahwa kita harus berusaha untuk menghindari penderitaan dan kesenangan terbesar yang terletak di negara kuat yang mendalam tenang (ataraxia) yang bebas dari mengkhawatirkan mengejar atau tidak diinginkan konsekuensi dari kesenangan fana.
Untuk Ketabahan, kebaikan terbesar terletak pada alasan dan kebajikan, tapi jiwa terbaik untuk mencapai ini melalui semacam ketidakpedulian (apatheia) terhadap kesenangan dan rasa sakit: sebagai akibatnya, doktrin ini telah diidentifikasi dengan tegas menjadi pengendalian diri dalam hal penderitaan.
Jeremy Bentham dan dikembangkan hedonistik utilitarianisme, yang populer dalam ajaran etika, politik, dan ekonomi. Bentham berpendapat bahwa hak-undang atau kebijakan yang akan menyebabkan "the greatest happiness of the greatest number". Dia menyarankan sebuah prosedur yang disebut hedonik atau felicific kalkulus, untuk menentukan berapa banyak kesenangan dan rasa sakit akan hasil dari setiap tindakan. John Stuart Mill ditingkatkan dan dipromosikan doktrin utilitarianisme hedonistik. Karl Popper, dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, mengusulkan negatif utilitarianisme, yang mengutamakan pengurangan penderitaan atas peningkatan kebahagiaan ketika berbicara utilitas: "saya percaya bahwa ada, dari titik pandang etika, tidak simetri antara penderitaan dan kebahagiaan, atau antara rasa sakit dan kenikmatan. (...) penderitaan manusia membuat langsung tarik moral untuk membantu, sementara tidak ada panggilan serupa untuk meningkatkan kebahagiaan seorang laki-laki yang baik-baik pula." David Pearce, untuk bagian itu, pendukung utilitarianisme yang bertujuan tedeng aling-aling pada penghapusan penderitaan melalui penggunaan bioteknologi (lihat rincian lebih lanjut di bawah ini di bagian Biologi, neurologi, psikologi). Aspek lain yang patut disebutkan di sini adalah bahwa banyak utilitarians sejak Bentham berpendapat bahwa moral status yang berasal dari kemampuannya untuk merasakan kenikmatan dan rasa sakit: oleh karena itu, agen moral harus mempertimbangkan tidak hanya kepentingan manusia, tetapi juga orang-orang (lain) hewan. Richard Ryder datang ke kesimpulan yang sama dalam konsep 'spesiesisme' dan 'painism'. Peter Singer's tulisannya, terutama buku Animal Liberation, mewakili tepi terkemuka dari jenis utilitarianisme untuk hewan serta untuk orang-orang.
Doktrin lain yang terkait dengan relief penderitaan kemanusiaan (lihat juga prinsip-prinsip kemanusiaan, bantuan kemanusiaan, dan humane society). "Di mana rasa kemanusiaan adalah upaya mencari tambahan positif dalam kebahagiaan semua makhluk, itu adalah untuk membuat bahagia bahagia bukan bahagia bahagia. (...) [Kemanusiaan] merupakan bahan dalam banyak sikap sosial; dalam dunia modern ini memiliki begitu merambah ke beragam gerakan (...) bahwa hal itu tidak dapat dikatakan ada dalam dirinya sendiri."[6]
Pesimis memegang dunia ini untuk menjadi terutama yang buruk, atau bahkan kemungkinan terburuk, terganggu dengan, antara lain, tak tertahankan dan tak terbendung penderitaan. Beberapa mengidentifikasi penderitaan sebagai sifat dunia, dan menyimpulkan bahwa akan lebih baik jika hidup tidak ada sama sekali. Arthur Schopenhauermenganjurkan kita untuk berlindung pada hal-hal seperti seni, filsafat, kehilangan kemauan untuk hidup, dan toleransi terhadap 'sesama penderita'.
Friedrich Nietzsche, pertama dipengaruhi oleh Schopenhauer, yang dikembangkan setelah itu cukup lain sikap, dengan alasan bahwa penderitaan hidup lebih produktif, meninggikan kehendak untuk berkuasa, meremehkan yang lemah kasih sayang atau belas kasihan, dan merekomendasikan kita untuk merangkul sengaja 'kembali abadi' terbesar penderitaan.[butuh rujukan]
Filosofi dari rasa sakit adalah filsafat khusus yang berfokus pada rasa sakit fisik dan, melalui itu, secara umum relevan penderitaan.
Siksaan bersal dari kata dasar siksa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia siksa berarti penderitaan (kesengsaraan dan sebagainya); hukuman dengan cara di sengsarakan(disakiti). Sedangkan siksaan berarti hasil menyiksa atau perlakuaan yang sewenang-wenang(seperti menyakiti, menganiaya, dan sebagainya.
Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara introgasi unutk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagi metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang di anggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.
Berikut adalah contoh-contoh siksaan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :

1.   Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang penderita akibat menderita suatu penyakit. Rasa sakit ni dapat menimpa setiap manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tua-muda, berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri padanya. Orang bodoh atau pintar, bahkan dokter juga berkemungkinaan mengalaminya. Siksaan seperti ini terjadi atas kehendak Yang Mahakuasa. Akan tetapi Allah menurutkan sebuah rasa sakit kepada hambanya yang beriman bukan untuk menyiksa, melainkan sebagai penggugur dosa bagi yang tertimpa rasa sakit.
“Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2.   Penganiayaan
Penganiayaan merupakan bentuk siksaan fisik yang di alami oleh seseorang di sebabkan oleh orang lain. Seseorang melakukan tindakan penganiayaan bisa di sebabkan oleh beberapa faktor, seperti hasad/dengki, Tamak, Emosi, ataupun Dendam.

3.   Ketakutan mental
kekalutan mental merupakan suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kakacauan dan kebingungan dalam dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya. Saat mendapat kekalutan mental berarati seseorang tersebut sedang mengalami kejatuhan mental dan tak tahu apa yang mesti dilakukan oleh orang tersebut. Dengan mental yang jatuh tersebut tak jarang membuat orang yang mengalami kejatuhan mental tak waras lagi atau gila. Karena itu orang yang mengalami kejatuhan atau kekalutan mental seharusnya mendapat dukungan moril dari orang-orang dekat di sekitarnya seperti orangtua, keluarga atau bahkan teman-teman dekat atau teman-teman pergaulannya. Hal ini tersebut dibutuhkan agar orang tersebut mendapat semangat lagi dalam hidup.

HUBUNGAN MANUSIA DAN PENDERITAAN

        Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala yang ada isi jagad raya ini. Beliau menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
    Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Perlu di pahami mahluk hidup selalu membutuhkan pembaharuan dalam diri, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuh air dan udara. Dan membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apa bila tidak terpenuhi manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukang penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi patokan untuk selalu di penuhi akan membawa pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di akhirat.
    Manusia sebagai mahluk yang berakal dan berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun juga pemikirannya dan perasaanya. Tidak hanya naluri namun juga nurani.
    Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlah. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam penghidupanya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupanya.
    Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita didunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan didalam neraka.
    Manusia didunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahanya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa pada pederitaan di akhirat.
    Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi penderitaan. Ada yang menganhap sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak beranjak dari kesesatan. Sangat terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan kehidupan manusia berupa siksaan, kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat manusia mengalami kekalutan mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati proses tersebut dengan ketabahan, di akherat kelak dapat menggiring manusia pada penyiksaan yang pedih di dalam neraka.

 Cara Manusia Menghadapi Penderitaan

    Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya ? penderitaan fisik yang dialami manusia tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitaan psikis penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.

 Pengaruh Penderitaan

Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah menjadi bubur”. Kelanjutan dan sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dan penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa; anti ibu tiri; anti kekerasan, ia berjuang menentang kekerasan, dan lain-lain.
Apabila sikap negatif dan sikap positif ini dikomunikasikan oleh para seniman kepada pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Keadaan yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai. Keadaan yang berupa hambatan yang harus disingkirkan.

KESIMPULAN

Pada hakekatnya semua manusia mengalami penderitaan dalam hidupnya. Bahkan penderitaan itu selalu berdampingan pada manusia bahkan penderitaan sudah merupakan rangkaian hidup dari manusia. Setiap orang pasti sudah mengalami penderitaan. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil ketika kita mendapat masalah. Masalah bukan hal buruk yang harus kita hindari begitu saja, namun kita harus menjalani, melewati bahkan mengatasi masalah yang kita hadapi. Tidak semua masalah yang kita hadapi membawa pengarus buruk dalam hidup ini melainkan menjadi satu dorongan dan motivasi kita dalam menjalani hidup, menjadi pendorong kita agar hidup lebih baik lagi. Ketika amasalah datang kita harus melewatinya dan menghadapinya dengan kuat.


DAFTAR PUSTAKA :

https://www.google.co.id/search?q=pengertian+penderiaan&rlz=1C1CYCW_enID816ID816&oq=pengertian+penderiaan&aqs=chrome..69i57j0l5.9728j1j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Komentar

Postingan Populer